“Jangan pernah bolos sekolah lagi ya, pinta
kakak gue serentak mengambil helm yang gue kasih. “Iya kak, gue kekelas dulu
ya, kakak hati-hati dijalan, asalamualaikum....
Gue ga akan bolos lagi, gue janji, gak akan bolos lagi, gue janji, gak
akan...
“brak!!" suara tabrakan
yang membuat langkah gue terhenti. "aduh.. Sorry, gue gak sengaja, kata
seorang perempuan yang terjatuh karena menabrak gue tadi. "oh, nggak
apa-apa kok, lo baik-baik saja kan? Sini, biar gue bantu" ucap gue. "makasih
ya, kata si perempuan itu sambil menerima uluran tangan gue. Sesaat setelah
berdiri dan kembali rapi, perempuan itu langsung saja berlalu dan mulai
mempercepat langkahnya. Gue terdiam sejenak, memikirkan apa yang baru saja
terjadi, mengingat-ingat kembali sosok perempuan itu. Pengen gue kejar, tapi..
"Woy Jonk buruan, pelajaran pak dirman loh, suara dari belakang memanggil
gue. “Oh, elo song, yuk, jawab gue.
Kami pun mulai melangkah menuju ke kelas yang jaraknya lumayan jauh dari
gerbang sekolah tempat gue berdiri ini. "tadi itu siapa?" tanya Isong
di selah-selah langkah kami. "yang tadi? Siapa?" tanya gue balik.
"yahh.. Pura-pura bego', cewek yang nabrak lo tadi itu siapa?" jelas Isong.
"ooo.. Cewek yang tadi? Gue nggak tau juga tuh, ketemu aja baru
tadi." Jawab gue. "ohh.. Eh, tapi dia cantik juga loh, bisik Isong,
"iya juga sih, tapi sudah lah song ..
Tiing...Tiing...Tiing...Bell pulang telah berbunyi, parkiran dan gerbang
sekolah dipenuhi dengan siswa siswi yang pengen pulang. Tapi pandangan gue tak
berpaling lagi setelah gue lihat seorang wanita sedang terdiam manis di depan
gerbang. "Wah, betul kata Isong. Kau memang cantik" ucap gue dalam
hati. Perempuan yang berdiri itu adalah perempuan yang nabrak gue tadi pagi di
gerbang sekolah. “Gue harus kenalan, lanjut gue dalam hati. Tapi, baru aja
memulai langkah, dia telah di jabat duluan oleh orang lain, dan ternyata orang
itu adalah Dolly adik kelas gue. "duh, terpaksa keinginan untuk kenalan
dengan cewek itu harus gue tahan dulu, ini bukan waktu yang tepat menurut gue.
Sesampai di rumah, otak gue masih saja memikirkan siapa sebenarnya cewek
itu, "cewek itu, namanya.. siapa yah?" bisik gue. Rasa penasaran gue
semakin menjadi-jadi. Di kamar kesayangan, gue coba mengingat-ingat kembali
paras wajahnya.. Sungguh, dia memang menawan. Kulitnya yang putih, rambutnya
yang lurus terurai, matanya yang indah, apalagi jika ditambah dengan ekspresi
panik seperti tadi.. Kau semakin cantik. Ada getaran aneh jika memikirkannya.
Padahal baru ketemu.. Perasaan apa ini? Cinta? Ini tidak mungkin cinta, tak
secepat ini untuk jatuh cinta.
Hari telah berganti. Sama seperti biasa, ke sekolah..
Panggil aja gue Jonk, gue adalah siswa di salah satu SMA Negri di
Pangkalpinang. Sekarang gue duduk di bangku kelas XII dengan umur 16 tahun, dan
bicara tentang hobi, gue lebih senang dengan hal-hal yang berbau musik.
Di sekolah, suasana masih seperti biasa, pak satpam yang menjaga di gerbang
sekolah, kepala sekolah yang selalu setia mengelilingi setiap sudut sekolah,
dan para wali kelas yang sibuk mengkordinir anak muridnya. Tapi ada yang beda
hari ini, entah kenapa pagi ini ada panggung kecil di tengah lapangan, dan
disana telah banyak orang yang berkumpul. Dentingan suara mic mulai terdengar
dari speaker, dan setelah itu terdengar suara alunan gitar acoustic yang
dibarengi dengan suara yang lembut. "you know all the things i said, you
know all the things that we have down, and the things i gave to you.."
lagu ten2five yang mengalun indah, memenuhi seluruh lapangan sekolah. Terdengar
enak dan merdu di telinga. Rasa penasaran mulai menyerang pikiran gue, gue
mencoba mendekat ke panggung. Gue pengen lihat siapa yang bernyanyi semerdu
itu. Gue melangkah semakin dekat, dan mendekat, sehingga gue bisa melihat jelas
siapa yang nyanyi dipanggung itu. "itu kan cewek yang kemarin?" tanya
gue dalam hati.
“Duh, dia benar-benar cewek yang keren, selain cantik, dia juga bisa main
alat musik dan menyanyi. Salut gue!
"Keren ya bro! “suara dari samping kanan membuat gue spontan menjawab
tanpa menoleh "keren banget! "ada yang jatuh cinta nih kayaknya?
tanya suara itu lagi, tapi kali ini gue merespon dan dibarengi dengan menoleh
"elo song? "Jatuh Cinta? Nggak lah, terlalu cepat untuk suka song,
apalagi minat buat di jadiin pacar, Sangkalku. "yang bener lo?
tanya Isong. "Iya bener Isong, sangkal
ku lagi. Tiba-tiba, suara lembut dari belakang memecahkan obrolan gue dengan Isong.
"Kak, kakak yang kemarin gue tabrak di gerbang sekolah kan, maaf ya kak,
gue terburu-buru soalnya. “Eh iya Gak papa kok, jawab gue dengan sedikit grogi.
"kenalin kak, nama gue Dessy, kata Dessy spontan sambil memberi uluran
tangannya yang dibarengi dengan senyum yang indah. "Gue Jonk, responku
sambil membalas uluran tangannya. “Eheem, gumam Isong. “Oh iya des, ini temen
gue Isong, pengen kenalan juga kayaknya, kata gue sambil menepuk pundak Isong.
“Hai kak Isong, salam kenal ya, kata Dessy manis. “Iya des salam kenal juga,
jawab Isong. "Hehe.. Kalian sahabatan atau lebih dari sahabat nih? Canda Dessy.
Belum sempat gue menjawab, Isong langsung saja menerobos. "Kita sering
tidur bareng malah". "Wah, klop banget! Kalian pasangan yang
fenomenal hehee, canda Dessy lagi. "eh, nggak kok. Gue masih normal. Isong
aja tuh yang sering banget nyolek pantat sesama jenisnya kalau di kelas, bela
gue yang tak ingin membuat Dessy menjadi ilfeel. "iya deh, percaya
percaya. Eh kak, gue duluan yah? Mau kekelas dulu, daaah, kata Dessy sambil
meninggalkan gue dan Isong. "daah.." balas kami secara serentak.
"gile lu! Ngapain pake bongkar kartu segala?" kesal Isong sama gue.
"yang buka kartu duluan siapa? elo kan? Dasar lo bocah mesum!". Ejek
gue ke Isong dan berlalu meninggalkan lapangan menuju ke kelas.
Sungguh, Dessy memang cantik. Dia berbeda, tak ada yang seperti dia di sekolah.
Humoris, supel, dan baik. Wanita Idaman para pria. Mungkin, gue memang telah
jatuh cinta sama dia.
Sudah seminggu setelah hari gue kenalan dengan Dessy. Dan karena kami sama-sama
hobi bermusik, kami selalu berbagi dan sharing tentang musik disekolah. Gak
bakalan gue sia-siain kesempatan ini. Ini adalah ajang yang tepat untuk
mengenal Dessy lebih jauh, dan untuk mencari tahu apakah dia memiliki rasa yang
sama pada gue. Untuk yang kesekian kalinya, gue dan Dessy bertemu lagi di jam
istirahat sekolah dan biasanya ngobrol dulu. Kami mulai sedikit akrab, sehingga
Dessy juga sudah sering bercanda dan mulai bertanya tentang urusan pribadi gue.
"eh, Jonk, lo kok ngomongnya cuma sama gue doang? Gue nggak pernah tuh
lihat lo ngomong akrab sama cewek lain. Pacar lo mana? “sungguh, pertanyaan Dessy
yang satu ini membuat gue semakin berharap. "ngg.. Nggak kok, gue biasa
juga sih ngobrol sama yang lain. Tapi nggak ada yang senyambung elo.
Hehe.." jawab gue dengan sedikit memuji. "bisa aja kamu.." ujar Dessy.
Gue mulai langkah awal gue, gue akan berkonsultasi sama Isong dan meminta
sarannya. Baru gue mau mencari Isong, tiba-tiba dia langsung saja muncul. “Jonk,
gue punya kabar buruk, ucap Isong. “Apaan song, tanya gue penasaran. “Dessy
jadian sama Robby adek kelas kita, lo sih kelamaan, kata Isong sambil
menepuk-nepuk punggung gue. “Ah gue telat, gue suka sama Dessy, tp Dessy sudah
menjadi milik orang lain, gumam gue dalam hati. “Ya bagus dong klo Dessy jadian
sama Robby, gue ikut seneng kok, kata gue berupaya menghilangkan rasa sakit
hati gue. “Munafik lo Jonk, potong Isong. “Gue tau lo suka sama Dessy, buku
tulis lo aja kebanyakan nama Dessy daripada catatan pelajaran. “Gue ke kekelas
duluan yah?, alasan gue ke Isong dan berlalu meninggalkan Isong dengan perasaan
yang sangat rapuh.
Tiing...Tiing...Tiing..Bell pulang berbunyi. Masih seperti biasa, parkiran
sekolah dipenuhi siswa siswi yang mau pulang. “Jonk, teriak Dessy serentak
berlari menuju gue. “eh des, ada apa?, tanya gue lemes. “Gue jadian loh sama Robby,
kata Dessy senang. “Sakit des, sakit banget dengar pengakuan dari lo, bisik gue
dalam hati. “Gue udah tau kok dari Isong, selamat ya, jawab gue. “Yee ga
surprise lagi dong hehee, ucap Dessy bahagia. “Oh ya des, gue duluan ya, salam
sama Robby, kata gue berupaya terlihat biasa-biasa aja. “Oh iya Jonk, hati-hati
ya, kata Dessy serentak melangkahkan kakinya mendekat ke motor Robby.
Sungguh, ini memang sakit, suka sama seseorang, tapi orang yang kita suka
jadian sama orang lain. Lebih sakit lagi ketika mengingat kembali pengakuan
dari Dessy.
Gue suka Dessy, dan Robby telah menjadi pacarnya. Apa yang harus gue
lakukan, mengatakan perasaan gue ke Dessy? Tapi Dessy udah jadi milik orang
lain.
Sesampai di rumah, yang gue lakukan hanyalah pasrah. Pasrah atas cinta gue
yang telah pergi.
Kini hari-hari gue lebih banyak dipenuhi dengan cerita tentang Robby dari Dessy.
Sakit memang, tetapi gue akan tetap tegar dan bertahan.
Des, gak papa klo gue gak jadi milik lo, gak papa juga klo bukan gue yang
menemani hari-hari lo, dan gak papa juga kok klo bukan gue yang selalu membuat
lo tersenyum.
Gue rela gak jadi milik lo,
gue rela gak bisa selalu berada disamping lo, karena dengan melihat lo
tersenyum aja gue udah seneng kok :)